SUARAJATIM - Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Timur menggelar penguatan karakter kepemimpinan dan pola pikir ASN selama 12–13 Februari 2026 di Surya Hotels & Cottages Prigen, Kabupaten Pasuruan. Agenda ini dihadiri langsung Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak.
"ASN saat ini dituntut untuk memiliki jiwa melayani dan berorientasi pada kebutuhan pengguna. Melalui penguatan karakter kepemimpinan, kita ingin membangun fondasi integritas yang kuat, kemampuan mengambil keputusan etis, serta memotivasi tim untuk mencapai visi bersama demi lingkungan kerja yang produktif dan berdaya saing tinggi," ujar Sukamto, Plh Kepala Perwakilan BKKBN Jatim.
Kegiatan ini bukan pertemuan biasa. Selama dua hari penuh, 165 peserta dari berbagai unsur internal hadir. Mulai pejabat fungsional ahli madya, muda, dan pertama, tenaga administrasi, operator layanan operasional, kepala UPT Balai Diklat KKB Malang dan Jember, hingga penyuluh KB dan perwakilan media. Semua dikumpulkan untuk satu pesan besar: birokrasi tak bisa lagi berjalan dengan pola lama.
Sukamto menegaskan, ekspektasi masyarakat terhadap layanan publik semakin tinggi. Kecepatan, transparansi, dan kemampuan beradaptasi menjadi tuntutan harian. Ia berharap seluruh peserta mampu menerapkan perubahan di wilayah tugas masing-masing setelah kegiatan ini.
Sementara itu, Emil Dardak memberi penekanan lebih tajam. Ia meminta adanya pergeseran pola pikir ASN dari sekadar menjalankan perintah menjadi insan yang kritis dan kreatif.
"Instruksi yang sangat spesifik dan kaku itu adalah ranah AI. Namun, memimpin manusia membutuhkan hati dan pemikiran kritis. Kita ingin ASN yang mampu menjadi problem solver, bukan justru menjadi bagian dari masalah atau bahkan 'berbisnis' di atas masalah," tegas Emil.
Menurutnya, pola micro-management mulai ditinggalkan. Dunia modern bergerak cepat. Teknologi bisa mengambil alih pekerjaan teknis dan rutin, tetapi kepemimpinan tetap membutuhkan empati serta kecerdasan emosional.
Emil juga mengapresiasi penyuluh KB yang bekerja dengan sistem jemput bola di lapangan. Berhadapan dengan masyarakat yang beragam secara kultural dan psikologis membutuhkan kemampuan persuasif yang tidak dimiliki mesin.
Forum ini dirancang untuk membentuk pemimpin di setiap level. Fokusnya pada penguatan etika kerja, penyeragaman standar layanan yang responsif, serta penyederhanaan birokrasi yang efektif. Kegiatan ini merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2010 dan Keputusan Kepala BKKBN Nomor 297/2022 tentang sistem kerja penyederhanaan birokrasi.
Pesan yang menguat dari Pasuruan jelas. ASN tidak cukup hanya patuh prosedur. Mereka dituntut kritis, adaptif, dan siap menjawab tantangan zaman. Tahun 2026 disebut sebagai momentum pembenahan layanan publik agar semakin prima dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
![]() |
| Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak saat membuka kegiatan penguatan karakter kepemimpinan dan pola pikir ASN BKKBN Jatim di Pasuruan, 12 Februari 2026. |
Kegiatan ini bukan pertemuan biasa. Selama dua hari penuh, 165 peserta dari berbagai unsur internal hadir. Mulai pejabat fungsional ahli madya, muda, dan pertama, tenaga administrasi, operator layanan operasional, kepala UPT Balai Diklat KKB Malang dan Jember, hingga penyuluh KB dan perwakilan media. Semua dikumpulkan untuk satu pesan besar: birokrasi tak bisa lagi berjalan dengan pola lama.
Sukamto menegaskan, ekspektasi masyarakat terhadap layanan publik semakin tinggi. Kecepatan, transparansi, dan kemampuan beradaptasi menjadi tuntutan harian. Ia berharap seluruh peserta mampu menerapkan perubahan di wilayah tugas masing-masing setelah kegiatan ini.
Sementara itu, Emil Dardak memberi penekanan lebih tajam. Ia meminta adanya pergeseran pola pikir ASN dari sekadar menjalankan perintah menjadi insan yang kritis dan kreatif.
"Instruksi yang sangat spesifik dan kaku itu adalah ranah AI. Namun, memimpin manusia membutuhkan hati dan pemikiran kritis. Kita ingin ASN yang mampu menjadi problem solver, bukan justru menjadi bagian dari masalah atau bahkan 'berbisnis' di atas masalah," tegas Emil.
Menurutnya, pola micro-management mulai ditinggalkan. Dunia modern bergerak cepat. Teknologi bisa mengambil alih pekerjaan teknis dan rutin, tetapi kepemimpinan tetap membutuhkan empati serta kecerdasan emosional.
Emil juga mengapresiasi penyuluh KB yang bekerja dengan sistem jemput bola di lapangan. Berhadapan dengan masyarakat yang beragam secara kultural dan psikologis membutuhkan kemampuan persuasif yang tidak dimiliki mesin.
Forum ini dirancang untuk membentuk pemimpin di setiap level. Fokusnya pada penguatan etika kerja, penyeragaman standar layanan yang responsif, serta penyederhanaan birokrasi yang efektif. Kegiatan ini merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2010 dan Keputusan Kepala BKKBN Nomor 297/2022 tentang sistem kerja penyederhanaan birokrasi.
Pesan yang menguat dari Pasuruan jelas. ASN tidak cukup hanya patuh prosedur. Mereka dituntut kritis, adaptif, dan siap menjawab tantangan zaman. Tahun 2026 disebut sebagai momentum pembenahan layanan publik agar semakin prima dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

