SUARAJATIM - Beban kerja Aparatur Sipil Negara kini tidak lagi sekadar soal jam kantor. Target menumpuk, tuntutan publik meningkat, perubahan lembaga berjalan cepat. Di balik seragam rapi, tekanan mental jadi ujian yang sering luput terlihat. Kondisi inilah yang membuat kesehatan mental ASN naik kelas menjadi isu serius.
![]() |
| Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Timur, Dra. Maria Ernawati, MM bersama ASN BKKBN Jawa Timur dalam kegiatan sehat mental di Kampus C Universitas Airlangga, Surabaya. |
Transformasi BKKBN menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga membawa konsekuensi nyata. Tugas bertambah, cakupan kerja melebar, ekspektasi publik ikut naik.
Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Timur, Dra. Maria Ernawati, MM., menyebut situasi ini menuntut kesiapan mental yang jauh lebih kuat.
“Transformasi lembaga ini membuat tantangan kerja tidak semakin mudah, justru semakin banyak tugas yang harus diselesaikan. Oleh karena itu, ASN perlu memiliki strategi dalam menjaga kesehatan mental agar kinerjanya tetap optimal,” ujar Maria Ernawati.
Ia menjelaskan, Kemendukbangga memikul mandat besar. Pengendalian stabilitas demografi dan pembangunan keluarga menjadi tugas utama. Di Jawa Timur, beban ini semakin terasa karena menyentuh langsung ketahanan keluarga. Pada saat yang sama, ASN dituntut menjaga integritas sebagai wajah pelayanan negara.
Masalahnya, tantangan pelayanan publik terus bertambah. Perkembangan teknologi bergerak cepat, pola masyarakat berubah, tuntutan transparansi makin tinggi. ASN dituntut adaptif tanpa jeda. Di sisi lain, keterbatasan sumber daya manusia dan anggaran tidak bisa dihindari. Tekanan inilah yang kerap menjadi pemicu stres kerja.
“ASN tidak hanya dituntut melayani masyarakat dan melaksanakan kebijakan, tetapi juga harus mengembangkan karier secara pribadi. Jika stres kerja tidak dikelola dengan baik, maka kinerja ASN akan menurun,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan stres tidak bisa ditunda. Kegiatan sehat mental ini diarahkan sebagai langkah pencegahan. Tujuannya jelas, membantu ASN mengenali tekanan sejak dini sebelum berdampak pada performa kerja dan kualitas layanan.
Situasi efisiensi anggaran justru mempertegas tantangan. Target kerja tetap harus tercapai, sementara ruang gerak semakin terbatas. Dalam kondisi seperti ini, kesehatan mental menjadi penopang utama agar ASN tetap fokus, profesional, dan konsisten melayani masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap ASN mampu mengelola stres dengan baik, menjaga kesehatan mental, serta tetap optimal dalam memberikan pelayanan dan mencapai target kerja meskipun dengan keterbatasan sumber daya,” pungkas Maria.
Isu kesehatan mental ASN kini berada di garis depan. BKKBN Jatim menempatkannya sebagai fondasi integritas kerja. Ketika mental terjaga, kinerja bergerak stabil. Ketika mental diabaikan, pelayanan publik ikut terguncang. Di tengah tekanan yang kian padat, kesehatan mental bukan pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.

